Saturday, August 2, 2008

Pernikahan Rasulullah SAW dan Dakwah Pasca Pernikahan


Pernikahan Rasulullah Muhammad saw merupakan salah satu catatan sejarah yang menakjubkan. Pernikahan beliau dengan Siti Khadijah radiyallahu anha menjadi bahan pembicaraan Kaum Quraisy di Kota Makkah. Hal ini disebabkan oleh karena Siti Khadijah yang merupakan wanita yang paling terpandang, cantik, pandai dan sekaligus kaya. Sementara Rasulullah saw sendiri pada saat itu masih berusia 25 tahun menikahi seorang khadijah binti khuwailid yang berusia 40 tahun.
Khadijah binti khuwailid adalah seorang wanita bangsawan suku quraisy yang memiliki kedudukan terhormat, cerdas, berakhlak mulia, memiliki kekayaan, dan seorang janda. Ia ditinggal mati oleh Abu Halah, suaminya.

Pertemuan antara Muhammad saw dan Khadijah ra.


Pernikahan indah antara rasulullah saw dan khadijah ra berawal dari kisah dagang beliau. Muhammad saw muda diberi kepercayaan oleh seorang saudagar ternama Kaum Quraisy, Khadijah binti Khuwailid. Ibnu Ishaq menuturkan, Khadijah biasa menyuruh orang-orang untuk menjalankan barang dagangannya dengan membagi sebagian hasil kepada mereka. Sementara orang-orang quraisy memiliki hobi berdagang. Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan seorang pemuda bernama Muhammad, kredibilitas dan kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirim utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke syam untuk menjalankan barang dagangannya. Dia siap memberikan imbalan yang jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah diberikan kepada pedagang lain. Beliau harus pergi bersama seorang pembantu yang bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran ini. Maka beliau berangkat ke Syam untuk berdagang dengan disertai Maisarah.

Pernikahan dengan Khadijah

Khadijah tertarik hatinya mendengarkan kisah Muhammad dari pembantunya, Maisarah. Maisarah menceritakan pengalamannya berdagang bersama Muhammad. Dia menceritakan bagaimana sifat-sifat beliau (Muhammad) yang mulia, kecerdikan dan kejujuran beliau. Khadijah dikisahkan dalam sirah nabawiyah seakan-akan mendapatkan barangnya yang pernah hilang dan sangat diharapkannya. Maka ia pun menawarkan diri kepada beliau. Padahal sebelumnya ia telah menolak beberapa pembesar suku quraisy yang melamarnya.
Dia (khadijah) meminta rekannya, Nafisah binti Munyah untuk menemui beliau dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah. Dan ternyata beliau (Muhammad) menerima tawaran itu, lalu beliau menemui paman-paman beliau. Dikisahkan oleh dalam sirah Ibnu Hasyim bahwa beliau dilamarkan oleh paman beliau yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Thalib menyampaikan khutbah pernikahan tersebut. Yang ikut hadir dalam pelaksanaan akad nikah adalah Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar. Hal ini terjadi dua bulan setelah kepulangan beliau berdagang di Syam. Maskawin beliau berupa dua puluh ekor unta muda. Usia Khadijah sendiri empat puluh tahun. Dia adalah wanita pertama yang dinikahi rasulullah saw. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain hingga dia meninggal dunia.
Semua putra-putri beliau, selain Ibrahim yang dilahirkan Maria Al Qibthiyah, dilahirkan dari Khadijah. Yang pertama adalah Al Qasim, kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan Abdullah. Semua putra beliau meninggal dunia selagi masih kecil. Sedangkan semua putri beliau sempat menjumpai islam dan mereka masuk islam serta ikut hijrah. Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi beliau masih hidup, kecuali Fathimah. Dia meninggal dunia selang enam bulan sepeninggal beliau, untuk bersua dengan beliau.

Kisah-Kisah Penting Sebelum Pernikahan


Pernikahan beliau dengan Siti Khadijah ra. Merupakan salah satu episode kehidupan sebelum kenabian. Abul Hasan An Nadwi dalam sirahnya mengatakan : pernikahan beliau dengan Khadijah adalah salah satu kisah menuju kebangkitan agung, yakni diutusnya Rasulullah saw. Kisah pernikahan beliau ini adalah salah satu episode yang meningkatkan kapasitas beliau sebagai rasul nantinya. Episode-episode penyempurnaan pribadi rasul dalam diri seorang Muhammad saw terjadi pula di masa sebelum pernikahan beliau.
Abul Hasan An Nadwi dalam sirahnya menyebutkan bahwa sebelum pernikahan beliau, rasulullah saw mendapatkan tarbiyah ilahiyah atau pendidikan yang bersifat ketuhanan. Rasul saw memiliki sifat paling baik akhlaknya, sangat pemalu, sangat jujur, sangat amanah serta terhindar dari perbuatan keji dan jahat. Sedemikian rupa sehingga beliau mendapatkan gelar al amin (orang yang dipercaya).
Beliau selalu menyambung tali silaturahim, suka meringankan beban kesulitan manusia, menghormati tamu dan suka memberi pertolongan atas dasar kebaikan dan ketaqwaan. Beliau makan dari hasil kerjanya sendiri dan bersikap sederhana dalam menikmati makanan.
Ketika Rasul saw berusia 14 atau 15 tahun, terjadi perang fijar antara suku Quraisy dan Qais ‘ailan. Beliau mengalami saat terjadinya perang tersebut dan berperan dalam mempersiapkan anak panah dan tombak untuk paman-pamannya dalam membalas serangan musuh. Melalui perang tersebut beliau memiliki ketangkasan berkuda dan keberanian berperang.
Setelah perang fijar beliau menyaksikan terjadinya Peristiwa Hilful Fudhul yang artinya sumpah setia yang luhur. Sumpah setia yang amat mulia yang pernah beliau dengar dan beliau saksikan pada bangsa arab. Rasulullah sangat menyukai sumpah setia tesebut dan ikut mematuhinya. Sumpah setia untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya dan menjaga agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dari seseorang kepada orang lain. Ketika beliau telah diangkat menjadi nabi, beliau menyatakaan berkenaan dengan sumpah itu, “sungguh aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jad’an sebuah sumpah setia yang lebih aku sukai daripada unta merah. Seandainya pada masa islam aku diminta melakukannya maka akan aku penuhi”
Kisah penting sebelum pernikahan agung diakhiri dengan masa perdagangan beliau ke negeri Syam (Iraq masa lalu). Dikisahkan dalam sirah Shafiyyurahman Al Mubarakfury, pada awal masa remajanya rasul saw tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa menggembala kambing di kalangan bani sa’d dan juga di makkah dengan imbalan uang beberapa dinar. Kisah beliau sebagai gembala kambing ini dikatakan oleh para ulama sebagai pendidikan kepemimpinan beliau di masa remaja. Bukan hal yang mudah urusan menggembala kambing itu, diperlukan perhatian yang tinggi, kemampuan lapangan, tanggung jawab yang besar, keberanian dan sikap kepemimpinan lainnya.
Baru pada usia 25 tahun beliau diberikan amanah membawa barang dagangan milik bangsawan bernama Khadijah binti Khuwailid yang pada akhirnya melahirkan cinta dan berbuah pernikahan indah.

Dakwah Pasca Pernikahan

Bisa dikatakan, pernikahan beliau dengan Khadijah berefek multi (multi effect). Status beliau berubah setelah menikah menjadi seorang suami dan ayah. Peran beliau semakin menambah kapabilitas beliau sebagai rasul nantinya. Selain itu di sisi lain ada efek baik dari pernikahan ini. Karena khadijah seorang yang terpandang di kalangan bangsawan quraisy ditambah rasul saw yang dikenal sebagai seorang al amin, keluarga rasul saw menjadi keluarga yang terpandang di kalangan masyarakat quraisy. Strata sosial seorang Muhammad yang nantinya menjadi rasulullah, semakin naik. Ditambah lagi jaringan beliau yang semakin luas karena pengaruh istrinya yang luar biasa.
Pasca pernikahan beliau, terdapat suatu peristiwa yang menggemparkan Kaum Quraisy. Peristiwa tersebut hamper memicu terjadinya pertumpahan darah diantara mereka. Peristiwa tersebut adalah kisah renovasi ka’bah. Pada saat itu rasul saw berusia 35 tahun, beliau menjadi pahlawan dari kisah fenomenal ini. Rasul saw berhasil menjadi penengah dan pemberi solusi atas masalah yang muncul pada saat renovasi ka’bah tersebut. Cara yang beliau lakukan untuk menengahi sangatlah luar biasa, di luar pemikiran kaum quraisy saat itu. Dengan cerdasnya, rasul saw meminta sehelai kain kemudian beliau meletakkan hajar aswad di atas kain dengan tangannya sendiri. Setelah itu, beliau berkata : “setiap pemimpin (suku) hendaknya memegang sudut kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama.” Mereka melakukan apa yang diminta rasul saw. Ketika sampai pada tempat hajar aswad di dinding Ka’bah, beliau mengambil batu tersebut dan meletakkannya di tempatnya. Kemudian pembangunan diteruskan hingga selesai. Beliau mencegah kemungkinan perang saudara antara kaum quraisy dengan kebijaksanaan, kecerdasan, rasa simpati, kelembutan dalam berbagai persoalan dan perdamaian antara sesama manusia.
Akhirnya Nabi saw telah menghimpun sekian banyak kelebihan dari berbagai lapisan manusia selama pertumbuhan beliau. Beliau menjadi sosok yang yang unggul dalam pemikiran jitu, pandangan yang lurus, mendapat sanjungan karena kecerdikan, kelurusan pemikiran, pencarian sarana dan tujuan. Keadaan beliau digambarkan oleh istrinya, Khadijah ra : “beliau membawa bebannya sendiri, memberi orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapapun yang hendak menegakkan kebenaran”
Pernikahan beliau dengan Khadijah adalah bagian penting dari kehidupan dakwah beliau. Ketika menerima wahyu untuk pertama kalinya, khadijah lah yang menenangkan beliau dan memberi dukungan kepada beliau. Saya bisa merasakan getaran kasih sayang seorang istri pada saat ketakutan yang amat sangat dari seorang suami, dalam hal ini rasul saw. Apa yang khadijah katakan kepada suaminya di saat ketakutan karena baru pertama kali menerima wahyu? Dia berkata : “tidak akan terjadi apa-apa! Demi Allah, Dia tidak akan pernah mempermalukan engkau selamanya. Sungguh engkau benar-benar menyambung hubungan kasih sayang, meringankan beban orang-orang yang menderita, memberi orang yang kehilangan, menghormati tamu dan selalu menolong atas dasar kebenaran.” Dukungan Khadijah terhadap beliau tidak sekedar kata-kata. Dia kemudian mencari dukungan dengan cara mencari info dari orang yang alim yaitu Waraqah bin Naufal. Dan benarlah, Waraqah mendukung Rasul saw. Setelah mendengar kisah yang dialami rasul saw saat menerima wahyu pertama di gua hira, dia berkata : ”demi dzat yang diriku berada dalam kekuasaan Nya. Sesungguhnya engkaulah nabi umat ini. Sesungguhnya engkau telah didatangi An Namus Al-Akbar, yang pernah datang menemui Musa. Dan sesungguhnya kaummu akan mendustakanmu, menyakitimu, mengusirmu bahkan akan memerangimu.” Khadijah kemudian beriman kepada Muhammad saw. Ia adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Ia selalu membantu di samping suaminya, meringankan kesedihannya, dan menganggap ringan terhadap orang-orang yang akan menghalangi suaminya.

Referensi :

Abul Hasan An Nadwi. Sirah Nabawiyah : Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta : Mardhiyah Press. 2005.

Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Jakarta : Pustaka Al Kautsar. 2006

1 komentar:

yudi said...

indahnya penikahan ala rasulullah memang sudah sepantasnya menjadi panutan bagi kita semua...