Wednesday, October 15, 2008

Fenomena Produk Teknologi Indonesia


Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal, kenapa alat scanning canggih di dunia kedokteran semacam MRI harus impor?padahal menurut teman elektro saya, dia bilang :"mas, sebenarnya orang2 kita (ITB) bisa kok bikin kayak begituan..tapi kenapa ya, kita malah impor?". inilah fenomena produk teknologi indonesia. banyak anak bangsa yang bisa membuat produk-produk teknologi yang tidak kalah dengan bangsa2 lain. namun produk-produk tersebut tidak digunakan oleh industri dan institusi yang memerlukan. mereka lebih memilih untuk menggunakan produk serupa yang berasal dari pabrikan lain yang memiliki nama dan notabene berasal dari negara lain atau dengan kata lain harus impor!
salah satu penyebab fenomena ini adalah apa yang disebut dengan pengabaian long term research. riset-riset di negeri kita banyak yang sia-sia karena tidak berorientasi jangka panjang. negeri kita kekurangan suatu lembaga penjamin dari hasil riset-riset kita. saya punya beberapa contoh.

1. fenomena katalis di pertamina

pertamina membutuhkan katalis untuk memroses minyak bumi untuk menjadi bensin, solar, dsb. dan setiap tahunnnya mereka harus mengimpor berton-ton katalis yang berharga jutaan dolar untuk menjaga keberlangsungan produksi BBM. pertamina tidak membeli dari pihak dalam negeri karena mereka tidak ingin ambil resiko berhentinya produksi BBM. produsen katalis dalam negeri belum ada yang bisa menjamin produk katalis mereka tidak akan membuat kerusakan pada reaktor atau menurunkan produksi reaktor tersebut. dengan kata lain pertamina lebih percaya pada produsen luar negeri yang telah tersertifikasi dan memiliki jaminan yang pasti. pertamina belum bisa mempercayai produsen dalam negeri kata tidak ada jaminan yang pasti. produksi BBM adalah vital, merupakan urat nadi perekonomian bangsa. jadi akan sangat merugikan jika saja 1 hari saja kilang minyak harus berhenti berproduksi.

2.alat-alat kedokteran

ini hasil diskusi saya dengan kawan dari elektro. mengenai satu alat yang dinamakan MRI. alat ini adalah alat untuk scanning bagian dalam tubuh manusia dengan memanfaatkan resonansi magnet. menurut keterangan teman saya ini, yang tentunya saya cukup percaya, bahwa elektro ITB bisa membuat alat ini. bisa dibayangkan, jika kita bisa membuat sendiri alat ini, kita tidak perlu repot membeli alat yang konon harganya jutaan dolar. namun lagi-lagi kenyataannya kita belum menemukan alat MRI buatan dalam negeri. inilah yang saya sebut dengan lembaga penjamin. konsumen menginginkan produk yang mereka beli benar-benar terjamin kualitasnya. produksi alat MRI ini di indonesia belum bisa dilaksanakan karena tidak adanya lembaga penjamin yang secara pasti meyakinkan konsumen bahwa alat ini baik. saya dengar di dunia elektronika atau elektrikal ada organisasi semacam persatuan insinyur elektro dunia yang menjadi sejenis lembaga sertifikasi alat-alat elektronik di dunia. dan orang-orang indonesia ada yang menjadi anggotanya.
ini menjadi PR para insinyur, institusi akademik dan pemerintah serta masyarakat indonesia (sebagai penikmat teknologi) untuk bahu membahu mengatasi fenomena ini.
fenomena ini merupakan permasalahan yang besar bagi kita. para dosen-dosen di berbagai universitas seringkali terdengar menyalahkan pemerintah yang tidak banyak mendukung perkembangan teknologi indonesia. namun dari pemerintah sendiri merasa tidak punya pilihan lain, mereka tidak ingin mengambil resiko.
yang jelas "masak kita kalah sama cina?"

2 komentar:

rhein fathia said...

mungkin orang indonesia kebanyakan omong sedikit kerja kali yah.. Git, tukeran link yah... udah tia pasang

yudi said...

emang masalah ini udah lama terjadi, tp sampe skrg masih berlarut-larut. mari kita belajar dr china, sejak diembargo ekonominya, china buat katalis sendiri hingga kini katalisnya bisa dijual di dunia.
kapan indonesia bisa begitu?