
Penyebab terpuruknya bangsa ini adalah tidak dimilikinya sikap qanaah oleh sebagian besar rakyat indonesia (Ustad Hasan--salah seorang guru saya di bogor--
ketertarikan saya pada permasalahan bangsa yang tercinta ini menjadikan saya terus berpikir dan sering berdiskusi: apa masalahnya dan bagaimana solusinya. salah satu masalah bangsa ini adalah belum dijadikannya sikap qanaah sebagai gaya hidup (lifestyle).
sikap qanaah didefinisikan sebagai sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rizki yang diberikan Allah SWT.
Allah SWT berfirman mengenai sifat dasar manusia dalam surat Al Imran ayat 14:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
jelas sekali Allah SWT mengatakan bahwa fitrahnya manusia mencintai harta dan apa-apa yang diingini. dalam hadistnya rasul saw bersabda
Jika seorang anak Adam memiliki emas sebanyak dua lembah sekalipun maka dia akan (berusaha) mencari lembah yang ketiga. Perut anak Adam tidak akan berasa puas sehinggalah dipenuhi dengan tanah. (Riwayat Bukhari).
hadis ini semakin memperkuat argumen mengenai sifat dasar manusia yang tidak pernah puas akan harta dan apa-apa yang disebutkan dalam Al Imran 14 tersebut.
saya kebetulan tinggal di sebuah perkampungan yang jauh dari pusat kota. kampung atau desa saya, masih dipenuhi lahan-lahan pertanian. tingkat kehidupan masyarakat tebilang rendah, hal ini dibuktikan dengan banyaknya penerima BLT di desa saya.
namun miris rasanya jika melihat gaya hidup sebagian besar tetangga saya ini. walaupun pendapatan kecil mereka senang untuk menghambur-hamburkan uang. jika mereka ingin menikahkan anaknya,mereka rela berhutang ke banyak tetangga untuk mengadakan hajatan/pesta besar dengan artis penghibur. kebanyakan anak muda senang 'nongkrong' dan begadang tanpa tujuan yang jelas.
disisi lain jika saya melihat secara global, kasus yang terjadi di desa saya ini ada di tempat lain. tidak di kota atau desa semua mengalami hal yang serupa walaupun dengan style yang berbeda.
para eksekutif muda dan profesional muda senang menghabiskan uangnya untuk refreshing di kafe, spa, dsb setiap akhir pekan, dengan alasan menghilangkan kepenatan. Koran Tribun jabar edisi sabtu(18/10) meliput tren spa untuk pria yang kini banyak digemari eksekutif muda.
para pejabat dan konglomerat banyak pula yang menghabiskan masa liburan di luar negeri atau sekedar shopping ke singapura. dan tentunya banyak mengeluarkan biaya. kemudian ada pula pejabat kita yang tertangkap basah melakukan tindakan asusila karena mereka punya uang yang banyak.
inilah contoh praktik sikap tidak qanaah yang terjadi pada bangsa kita. yang menyebabkan kemajuan demokrasi, sains, teknologi dan bidang-bidang lain menjadi terhambat.
lihatlah teladan kita, rasulullah saw. beliau bersabda:
”Makanan untuk seorang mencukupi untuk dua orang dan makanan untuk dua orang mencukupi untuk empat orang dan makanan untuk empat orang mencukupi untuk delapan orang.”
Riwayat Bukhari dan Muslim
lifestyle rasulullah saw yang notabene nya pemimpin imperium pada saat itu, sangatlah sederhana. bahkan pernah suatu waktu beliau banyak mengikatkan batu pada perutnya untuk menahan rasa lapar. padahal bisa saja rasul menggunakan kekuasaan beliau untuk meraup kekayaan, tapi itu tidaklah terjadi. beliau takut kepada Allah SWT dan tentunya beliau dilindungi Allah SWT dari segala sifat tercela.
Dari Abu Muhammad yaitu Fadhalah bin Ubaid al-Anshari r.a. bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "beruntunglah kehidupan seseorang yang telah dikaruniai petunjuk untuk memasuki Agama Islam, sedang kehidupannya berada dalam keadaan cukup dan ia bersifat qana'ah (menerima)."
(Hadis Hasan Shahih di sisi Imam Tirmidzi) .
Sikap qanaah menjadikan bangsa ini sadar bahwa kekayaan bukanlah segalanya. kekayaan harta bukanlah kekayaan yang hakiki. kekayaan yang hakiki adalah saat jiwa (hati) kita penuh dengan hidayah Allah SWT.
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda: "Bukannya yang dinamakan kaya itu kerana banyaknya harta tetapi yang dinamakan kaya (yang sebenarnya) ialah kayanya jiwa."
(Muttafaqu 'alaih)
dengan sikap ini, tidak lagi sikap iri dengki orang yang mendapatkan rizki lebih sedikit dari orang lain. dan tidak pula menjadikan sikap sombong pada orang yang dikaruniai kelebihan rizki. saya melihat efek sosial ada dalam sikap qanaah ini yang tentunya akan sangat berguna bagi bangsa indonesia kedepannya.




1 komentar:
Sebagai Newbie, saya selalu mencari online untuk artikel yang bisa membantu saya. Terima kasih Wow! Terima kasih! Saya selalu ingin menulis dalam sesuatu situs saya seperti itu. Dapatkah saya mengambil bagian dari posting Anda ke blog saya?
Post a Comment