
Sejarah mahasiswa kembali tercoreng. Bentrokan sesama mahasiswa kembali terjadi. Kali ini terjadi di Makassar, yaitu di Universitas Muslim Indonesia. Seperti yang dilansir oleh media massa setempat (Tribun Makassar), bentrokan ini melibatkan mahasiswa fakultas teknik dengan mahasiswa yang tergabung di unit kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UMI. Akibat bentrokan tersebut, seorang mahasiswa fakultas teknik, mengalami luka parah akibat terkena tebasan parang dan anak anak panah di bagian leher. Dua mahasiswa teknik lainnya menderita luka akibat bentrokan.
Bentrokan ini dipicu hanya karena provokasi berupa pamflet oleh Kelompok Mapala di sekitar fakultas teknik. Pamflet ini kemudian membuat beberapa mahasiswa fakultas teknik naik pitam hingga akhirnya menyerang unit Mapala tersebut. Dari penyerangan ini bentrokan akhirnya tidak teredam, hingga korban berjatuhan.
Ketidakdewasaan Mahasiswa
Mahasiswa yang terlibat bentrokan tersebut dinilai sama dengan anak-anak. Bentrokan yang dilakukan merupakan cerminan belum adanya sikap dewasa dalam diri pelaku. Sikap kekanak-kanakan yang dimiliki pelaku menjadikan para pelaku tidak mengedapankan hati nurani serta akal yang jernih. Emosi mudah sekali meledak hanya karena ejekan atau provokasi yang tidak ada gunanya.
Sayangnya para pelaku membawa identitas mahasiswa yang notabenenya merupakan kaum intelek, kaum terpelajar. Kaum yang mengenyam pendidikan hingga tingkatan tinggi dalam strata pendidikan formal. Para pelaku dapat dikatakan sebagai produk gagal dari pendidikan tersebut. Entah siapa yang gagal, apakah pendidik, sekolah, atau sistem pendidikan yang membuat mereka gagal memahami dan mengaplikasikan nilai luhur pendidikan tersebut. Nilai luhur pendidikan akan menjadikan seseorang yang dididik memiliki akhlak yang baik, kemandirian, dan kedewasaan. Ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan indonesia masih gagal membentuk pelajar yang sesuai dengan nilai luhur pendidikan.
Fakta yang terjadi di Indonesia mengenai bentrokan pelajar semakin memperkuat hipotesis yang telah dipaparkan sebelumnya. Berikut fakta-fakta yang memperkuat hipotesis ini:
1. Ratusan mahasiswa Universitas 45 Makassar terlibat tawuran dengan aksi lempar batu sesama mahasiswa pada Senin 3 November 2008
2. 24 September 2008. sebanyak 24 mahasiswa berasal dari Fakultas Sastra dan Desain (FSD), satunya lagi dari Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar
3. Tawuran mahasiswa fakultas teknik melawan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, fakultas ilmu ilmu budaya, dan ekonomi, Unhas, Selasa (26/2)
4. Tawuran antara pelajar SMK Bhakti dan SMK Penerbangan, Blok-M, Jakarta Selatan,18 februari 2007
5. Mahasiswa dari Fakultas Sastra dan Seni Rupa melawan mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, UNS, Selasa, 05 Desember 2006
dan masih banyak lagi.
Fakta di atas cukup menjadi bukti bahwa ada kesalahan dalam sistem pendidikan kita. Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan sudah seharusnya mencermati betul permasalahan ini. Evaluasi dan tindakan cepat harus segera dilakukan untuk mengantisipasi kasus-kasus serupa. Bagaimana mungkin Indonesia akan mencapai visinya pada tahun 2020 yakni ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang bersatu jika pada saat ini mahasiswa dan pelajarnya saja masih tawuran.
Mahasiswa Sebagai Agent Of Change
Sejarah Indonesia penuh dengan tinta emas para pemuda dan mahasiswa. Reformasi 1998, Malari 1974, Tritura 1966, dan sebagainya menjadi sejarah emas pergerakan mahasiswa. belum lagi jika melihat sejarah kemerdekaan Indonesia, akan terlihat bagaimana peran mahasiswa jelas-jelas menjadi segolongan agen perubahan. Namun kemudian sejarah ini tercoreng beberapa tahun ini. Sejak reformasi bergulir, banyak mahasiswa terlibat bentrokan antar sesama mereka. Golongan yang sering disebut-sebut sebagai pembela rakyat kini malah menyusahkan rakyat.
Hal inilah yang harus menjadi bahan evaluasi untuk para aktivis kemahasiswaan se-Indonesia. Disinilah perlunya sebuah upaya-upaya pencerdasan kepada mahasiswa untuk senantiasa berpikir dan bergerak sebagai agen perubahan di masyarakat. Agen perubahan bukanlah hal yang klise, apalagi dengan titel mahasiswa. Masyarakat Indonesia masih menghargai mahasiswa. Mereka pasti mengharapkan kontribusi-kontribusi nyata mahasiswa. Kontribusi yang tentunya beraneka ragam.
Satu contoh kontribusi mahasiswa untuk masyarakat adalah apa yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Teknik Kimia ITB. Mereka menerapkan ilmu yang didapatkan dari bangku kuliah untuk kemaslahatan masyarakat. dilatarbelakangi kepedulian mahasiswa tersebut akan krisis air bersih yang melanda penduduk sekitar sungai cikapundung, mereka kemudian berusaha untuk menyediakan air bersih gratis untuk penduduk tersbut. munculah suatu program yang dinamakan penyediaan air bersih dengan teknologi membran. Walaupun air bersih yang disediakan hanya cukup untuk satu RT saja, namun ini sudah menjadi bentuk kontribusi positif mahasiswa. Masyarakat yang menikmati air bersih tersebut menjadi terbantu oleh mahasiswa dengan teknologi ini. Tentunya jika tidak ada mahasiswa tersebut besar kemungkinannya mereka selalu sulit untuk mendapatkan air bersih. Dan faktanya sangat sedikit pihak-pihak termasuk pemerintah yang peduli dengan masalah-masalah seperti ini.
Contoh lainnya adalah kontribusi mahasiswa teknik elektro ITB dalam upaya pengadaan listrik teknologi mikrohidro di daerah terpencil di jawa barat. Dan masih banyak lagi bentuk kontribusi positif lainnya. Inilah bukti bahwa mahasiswa masih punya harapan. Tinggal bagaimana tekad dan idealisme tersebut diperkuat. Karena memang mahasiswa akan selalu menjadi agen perubahan. Strata Mahasiswa merupakan Suatu strata yang khas dan tidak dimiliki golongan lain yaitu penghubung rakyat kecil dengan para penguasa.




3 komentar:
wah ada foto saya.. haha..
btw, itu bukan di cikapundung kang..
itu di cililin..
ya betul di cililin, tapi masih nyambung dengan membran bukan?^_^
Assalamu'alaykum wr.wb.
pa kabar akhi... sudah lama tak jumpa...
sedang nyusun skripsi ya?
Post a Comment