Saturday, December 20, 2008

Dunia riset dan inovasi Indonesia saat ini


Baca koran PR hari ini (21 desember 08) terus nemu artikel bagus. semoga bisa menjadi bahan pemikiran buat temen2 yang berkecimpung di dunia industri dan dunia riset untuk bisa bekerjasama lebih baik lagi. Untuk Indonesia yang semakin maju. (masak dari dulu negara berkembang terus, bisa-bisa jadi negara tidak berkembang ^_^)


Bagaimana pandangan Pak Indratmo tentang dunia riset dan inovasi Indonesia saat ini? Bagaimana pula ITB sebagai world class university menyejajarkan diri dengan perguruan tinggi lain di dunia di bidang riset dan inovasi? Termasuk beberapa pandangan Ia tentang dunia keroncong yang menjadi hobinya selama ini? Ikuti perbincangan wartawan "PR", Eriyanti, dengan Indratmo Soekarno selama perjalanan menuju perhelatan IKF 2008 berikut ini.

Bagaimana sebetulnya riset-riset yang dilakukan ITB selama ini?

Riset-riset yang dilakukan ITB selama ini adalah bagaimana menemukan suatu penemuan untuk kemudian ditingkatkan pada skala yang mendekati prototipe. Setelah itu, prototipe ini diturunkan lagi menjadi skala industri. Untuk skala industri ini, bukan lagi urusan perguruan tinggi tetapi dunia industri. Namun link antara perguruan tinggi dan industri belum baik. Tugas saya antara lain mengusahakan hasil produk-produk ini digunakan dunia industri. Dunia industrilah yang nanti memroduksinya. Hasilnya bukan saja dapat dirasakan dunia industri tetapi juga masyarakat. ITB sebagai perguruan tinggi juga mempunyai income dari hasil penelitiannya. Nanti income tersebut digunakan kembali untuk penelitian.
Kalau begitu, riset-riset yang dilakukan ITB selama ini baru sebatas prototipe. Bagaimana dengan pengembangan keilmuannya?
ITB tidak hanya menjalin hubungan dengan dunia industri agar mereka mau mengembangkan prototipe-prototipe hasil temuan kita. Tetapi selalu ada tiga aspek yang dikembangkan dari suatu riset. Pertama hasil penelitian tersebut bisa menjadi suatu produk paten. Kedua menjadi suatu tulisan ilmiah pada jurnal internasional ataupun jurnal nasional yang terakreditasi (klasifikasi tinggi). Ketiga menjadi produk yang membantu pemecahan permasalahan bangsa ini. Contohnya bagaimana meningkatkan hasil pangan (padi) dengan menggunakan lahan, air, dan pupuk yang sedikit tetapi menghasilkan produk panen yang lebih banyak. Jadi, menjalin hubungan dengan dunia industri hanya salah satu saja dari pengembangan hasil-hasil riset yang kita lakukan.

Bagaimana respons dunia industri sendiri terhadap hasil-hasil riset yang dilakukan perguruan tinggi?

Inilah masalahnya. Diseminasi hasil temuan tidak bisa dimanfaatkan masyarakat karena dunia industri tidak merespons hasil-hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi. Padahal, tanggung jawab perguruan tinggi hanya sampai pada prototipe. Pengembangan prototipe selanjutnya sudah menjadi tanggung jawab dunia industri. Persoalannya, dunia industri hanya mau mengembangkan riset-riset yang sudah bersifat massal. Akibatnya, banyak hasil penelitian yang berhenti hanya pada tingkat prototipe.

Lalu, bagaimana dengan masalah paten? Apakah hasil-hasil riset yang dilakukan ITB sudah dipatenkan?

Inilah masalahnya. Belum banyak hasil riset ITB yang dipatenkan. Paling, baru 85 riset yang sudah dipatenkan. Dari jumlah itu pun, hanya 8 yang sudah sertifikat dan baru 2 yang dipakai dunia industri.

Wah, sedikit sekali...?

Ya, memang! Dunia industri kita hanya mau menerima barang jadi yang sudah dalam skala produksi. Mereka enggan menggunakan prototipe yang belum menjadi produk massal. Padahal, kalau mereka mau menggunakan prototipe tersebut, bukan saja produksi mereka akan lebih baik tetapi juga menghidupkan penelitian di perguruan tinggi dan membantu masyarakat hidup lebih baik. Hasil temuan perguruan tinggi kan baru akan dirasakan masyarakat bila prototipe yang dibuatnya dikembangkan industriawan.

Lalu, bagaimana dengan masalah paten? Ternyata masih sangat sedikit juga?

Untuk Indonesia saja, yang mengajukan proses paten hanya 400 per tahun. Yang mengajukan proses paten itu pun hanya 7% saja yang berasal dari dalam negeri. Sedangkan sisa terbanyaknya berasal dari luar negeri. Kondisi ini memang sangat memalukan. Apalagi bila dibandingkan dengan Amerika. Di negeri ini, sebanyak 150.000 proses paten yang diajukan per tahun. Sedangkan di Jepang sudah mencapai 3.000 proses paten yang diajukan per tahun. Itulah sebabnya, mengapa ITB sekarang sangat peduli dengan masalah paten ini.

Apa yang menyebabkan orang enggan mematenkan hasil-hasil temuannya? Konon malah banyak dosen yang malas mematenkan hasil temuannya?

Memang banyak dosen yang tidak mau mematenkan produknya. Mereka tidak terlalu antusias karena prosesnya lama bisa mencapai lima tahun. Apalagi dosen-dosen farmasi, kalau sudah masuk uji klinis, sangat melelahkan. Mereka perlu ratusan orang yang mau digunakan sebagai eksperimen. Tetapi tugas saya memang harus meningkatkan keinginan dosen dalam mematenkan karya-karyanya. Sebab tidak setiap dosen peduli dengan paten atau tulisan ilmiah. Misalnya, beberapa dosen ada yang membuat mesin untuk membuat minyak jarak, ada juga yang membuat penjernihan air, memproses crude palm oil (CPO), dan membuat teknologi untuk mengangkat bangunan miring, tetapi mereka sengaja tidak mematenkannya. Anggapan mereka, yang penting bisa digunakan untuk kepentingan pembangunan.

Untuk "positioning" ITB sebagai "world class university", hal apa yang menurut Anda masih dirasakan kurang dan harus dikembangkan?

Keinginan kami adalah meningkatkan jumlah karya ilmiah. ITB sebagai world class university harus mempunyai tulisan di jurnal internasional lebih banyak lagi. Untuk target 2009 ini, paling tidak ada seperempat dari jumlah dosen bisa menghasilkan makalah. Sedikitnya akan ada sekitar 200 tulisan dalam jurnal internasional. Sedangkan jumlah dosen ITB saat ini hampir 100 orang. Kalau sampai dua ratusan saja, itu sudah bagus. Sedangkan untuk jurnal nasional paling tidak setengah daripada jumlah dosen itu sudah menulis.

Untuk "positioning" seperti itu tentunya memerlukan anggaran riset yang lebih besar?

ITB akan mengupayakan jumlah anggaran penelitian terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika anggaran riset 2008 hampir mencapai Rp 40 miliar, anggaran riset 2009 harus mencapai Rp 50 miliar. Dana itu bisa diperoleh dari ITB Rp 13 miliar, insentif Menristek 11 miliar lebih, dan sumber-sumber lain. Pokoknya harus terus meningkat karena target dosen menulis karya ilmiah pun harus meningkat.


Bapak Prof. Indratmo Soekarno lama menjabat sebagai Ketua Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) ITB. Lulusan Teknik Sipil ITB (1983), Magister Strathclyde University, UK (1988), dan Doktor Strathclyde University, UK (1991) ini, banyak meneliti dan menulis karya ilmiah tentang hidraulik dan rekayasa air.

2 komentar:

yudhaindrawan said...

Saya pernah mendapatkan kuliah dari dosen tamu dari luar negeri. Beliau mengomentari penelitian2 dan tugas akhir mahasiswa yang benar-benar sulit untuk diterapkan di industri.
Beberapa orang pernah bilang, perusahaan2 di silcon valey pergi ke univ2 tertentu untuk mencari mahasiswa yg kan membuat penelitian di perusahaan tsb.

Kalau menurut anggit, keadaan seperti yang ada di tulisan anggit itu apakah karena sistem (karena kebijakan pemerintah), atau memang si-perusahaannya aj yang ag malas nyari2 hasil penelitian di universitas, atau civitas2 akademika yg membuat penelitian yang sangat "tinggi", sehingga saking tingginya industri2 ga bisa memanfaatkan teknologi tsb?

agus said...

Sebenarnya banyak skim pendanaan riset saat ini yang dapat mendukung kerjasama antara dunia PT dengan industri, termasuk insentif untuk Paten dan publikasi international. Semoga budaya riset di Indonesia semakin baik ya