Sunday, December 28, 2008

Ya Allah..Selamatkan saudara kami di Palestine..


Menjelang Aksi Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa RI untuk Palestina, Bundaran HI, 29 Desember 2008.

Israel yang kejam, AS salahkan Hamas, sementara PBB tak berkutik..

Seperti yang dilaporkan detik.com sebanyak 271 warga Palestina tewas dan ratusan luka-luka akibat serangan bom Israel. Meski korban tewas terus meningkat, Israel tidak menghentikan serangan. Israel kembali meluncurkan serangan udara di Gaza pada hari Minggu (28/12/2008.

Sementara itu Uni Eropa, Rusia dan Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menyerukan kedua pihak segera menghentikan kekerasan. Namun, AS yang merupakan sekutu terkuat Israel mengecam kelompok Hamas yang menguasai Jalur Gaza karena mematahkan gencatan senjata yang berakhir masa berlakunya 19 Desember lalu.

"AS mengecam keras berulangnya serangan-serangan roket dan mortir terhadap Israel dan menuding Hamas bertanggungjawab atas putusnya gencatan senjata, serta bangkitnya kembali aksi kekerasan di Gaza," kata Menteri Luar Negeri AS segera akan mengakhiri jabatannya, Condoleezza Rice, dalam pernyataannya.

lihat kawan!
betapa kejamnya mereka, israel dan pendukung2 nya..
mereka menyalahkan muslim palestine yang lemah..
mari suarakan kebenaran!

Ayo turun ke jalan!

Ya Allah..
selamatkan saudara kami di sana..
Allahu Akbar!

Saturday, December 20, 2008

Melatih Kejujuran


Ini kisah nyata seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di indonesia. Di kampus ini adakalanya dosen memberikan kuis sebagai ajang tes kemampuan dan pemahaman mahasiswa. Si mahasiswa ini berusaha untuk jujur ketika suatu waktu kuis tersebut dilaksanakan. Namun sayangnya kuis dilaksanakan tanpa adanya pengawas maupun dosen. Ketika dia sibuk berpikir terlihat teman-temannya sibuk mencontek, diskusi, buka buku, dsb. Hingga tiba ketika hasil kuis tersebut dibagikan sang dosen memanggil dua orang yang dianggap mencontek. Kata dosen: “Saya lihat ada beberapa diantara kalian yang berbeda sendiri hasil kuisnya”. Si mahasiswa yang merasa tidak mencontek tersebut kaget ketika ia yang justru dipanggil sang dosen. Dia mengatakan bahwa dirinya benar-benar jujur dan hanya mengerjakan sesuai dengan petunjuk yang ada di soal kuis tersebut. Dirinya memang belum mempelajari bab tersebut jadi dia merasa pasrah sejak awal mengerjakan kuis tersebut . pasrah jika tidak mendapat nilai sama sekali. Tapi dia bangga walau tak dapat nilai. Setidaknya ia bangga karena berhasil mempertahankan prinsip kejujuran di tengah terpaan godaan untuk melepaskan prinsip tersebut.

Sikap jujur yang selama ini didapatkan dalam pendidikan kita hanya lah teori belaka. Orang tua kita, teman-teman dan lingkungan memberi contoh yang bertolak belakang dari prinsip yang didapatkan di sekolah. Pelajaran seperi PPKN, PMP, dsb hanya masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Diri kita tidak dibiasakan untuk bersikap jujur. Anak kecil pun sudah bisa belajar berbohong. Misalkan saja seorang anak yang tidak boleh main setelah pulang sekolah. Dan ketika dia main hingga akhirnya pulang ke rumah dia ditanya oleh ibunya, “dari mana kamu? Tadi aku main ke rumah temen bu” jawab si anak. Spontan si ibu tersebut memarahi anaknya hingga anak tersebut sedih dan kesal. Sebagaimana karakter anak pada umumnya dia tidak menyerah. Karena jiwanya yang memang senang bermain, hari berikutnya dia tidak mengindahkan perintah ibunya untuk tidak bermain ke rumah teman setelah pulang sekolah. Hingga kemudian untuk menutupi kemarahan ibunya dia mengatakan alasan yang berbeda ketika ditanya mengapa terlambat pulang. Si anak akan menjawab “tadi habis belajar di rumah teman bu”. Padahal dia pergi main ke rumah temannya. Sang ibu tidak jadi marah karena dengar alasan anaknya tersebut.

Contoh sederhana tersebut tidak sedikit orang yang pernah mengalaminya ketika kecil. Hal tersebut menjadi salah satu bukti bahwa budaya untuk bersikap jujur belum mengakar dalam jiwa masyarakat kita. Lihatlah ketika para pelajar kita, mereka mencontek tanpa rasa malu ketika ujian, merekayasa data ketika praktikum, dan melakukan kebohongan-kebohongan lainnya. Dan yang lebih parah lagi kebohongan-kebohongan tersebut diwariskan kepada adik-adik kelasnya dengan mengatakan “ah ini kan masa kuliah/sekolah, jadi santai saja”. Padahal segala yang dilakukan akan berbekas sampai kapanpun. Ketika seseorang pernah membiasakan untuk tidak jujur atau berbohong maka di masa mendatang dia akan mengulangi hal tersebut. Dan ini terus menerus berulang tanpa akhir, dan inilah cikal bakal budaya korupsi yang hingga saat ini sukar diberantas di negeri ini.

Cara melatih kejujuran

Kejujuran yang harus diterapkan bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan kesadaran dan latihan agar sifat tersebut benar-benar menjadi prinsip hidup. Kesadaran bermula dari pengetahuan. Seseorang harus diberi pengetahuan mengenai pentingnya jujur dan apa akibat tidak jujur. Sementara latihan jujur itu sendiri bisa diciptakan secara personal maupun komunal.

Kesadaran akan pentingnya jujur dalam hidup harus ditumbuhkan sejak kecil. Pendidikan dari keluarga dan sekolah harus mementingkan kejujuran seorang anak. Sebisa mungkin diupayakan agar anak senang berbuat jujur. Sistem pemberian reward dan punishment harus diterapkan. Ketika si anak berani berkata jujur diberikan hadiah dan jika berbohong diberikan hukuman. Pendekatan penuh perhatian dan lemah lembut harus diberikan orang tua agar anaknya meninggalkan sifar bohong. Begitupula ketika di sekolah, seorang siswa harus dihargai tidak hanya dari nilainya saja tapi dari kejujurannya juga. Nilai ujian yang bagus akan percuma jika didapatkan dengan ketidakjujuran. Ujian tidak perlu diawasi karena siswa sudah sadar untuk jujur. Siswa dilatih untuk melaporkan jika ada temannya yang berbuat curang. Dan si pelapor ini diberikan reward tertentu atas keberanian melaporkan kecurangan tersebut. Kemudian pelaku kecurangan diberi hukuman yang berat dan hukuman ini didukung pula oleh orang tua dengan penjelasan dari pihak sekolah sebelumnya.

Salah satu latihan kejujuran yang saat ini dikembangkan pemerintah adalah program kantin dan warung kejujuran di sekolah-sekolah. Program ini diinisiasi oleh Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK sejak 2005. Menurut Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, M. Yassin, di Indonesia sendiri telah berdiri 20 warung kejujuran. Antara lain, di beberapa sekolah di Bali, Jambi, dan Riau.

Warung atau kantin kejujuran ini tidak ada penjaganya. Seperti beberapa warung lain, pembeli dapat langsung memilih makanan atau minuman sesuka mereka. Yang berbeda adalah pada saat pembayaran. Setelah selesai memilih makanan dan minuman yang mereka kehendaki, pembeli dapat memasukkan uang ke dalam wadah yang telah disediakan dan mengambil kembalian di wadah yang telah tersedia juga.

Prinsip kantin/warung kejujuran ini adalah “untung ruginya kantin tergantung dari pembeli, jika jujur akan untung dan jika tidak akan rugi”. Prinsip yang menarik dan berbeda dengan kantin pada umumnya.

Hubungan kejujuran dengan korupsi

Dari segi semantik, "korupsi" berasal dari bahasa Inggris, yaitu corrupt, yang berasal dari perpaduan dua kata dalam bahasa latin yaitu com yang berarti bersama-sama dan rumpere yang berarti pecah atau jebol. Istilah "korupsi" juga bisa dinyatakan sebagai suatu perbuatan tidak jujur atau penyelewengan yang dilakukan karena adanya suatu pemberian. Dalam prakteknya, korupsi lebih dikenal sebagai menerima uang yang ada hubungannya dengan jabatan tanpa ada catatan administrasinya. Sementara secara hukum pengertian "korupsi" adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi.

Indonesia termasuk ke dalam negara terkorup di dunia. Dalam situs www.worldaudit.org tahun 2007 indonesia menempati peringkat 115 dari 145 peringkat. Sementara versi transparency international, indonesia menempati peringkat 143 dari 179 negara. Fakta ini mungkin sudah tersiar sejak lama, sehingga kita tidak perlu kaget melihatnya. Fakta bahwa negeri indonesia korup menjadi PR besar bagi pemerintah. Melatih kejujuran sejak kecil dan menjadikannya sebagai budaya dalam segala aspek kehidupan menjadi kunci perbaikan korupsi yang sudah mengakar di negeri ini.

Dunia riset dan inovasi Indonesia saat ini


Baca koran PR hari ini (21 desember 08) terus nemu artikel bagus. semoga bisa menjadi bahan pemikiran buat temen2 yang berkecimpung di dunia industri dan dunia riset untuk bisa bekerjasama lebih baik lagi. Untuk Indonesia yang semakin maju. (masak dari dulu negara berkembang terus, bisa-bisa jadi negara tidak berkembang ^_^)


Bagaimana pandangan Pak Indratmo tentang dunia riset dan inovasi Indonesia saat ini? Bagaimana pula ITB sebagai world class university menyejajarkan diri dengan perguruan tinggi lain di dunia di bidang riset dan inovasi? Termasuk beberapa pandangan Ia tentang dunia keroncong yang menjadi hobinya selama ini? Ikuti perbincangan wartawan "PR", Eriyanti, dengan Indratmo Soekarno selama perjalanan menuju perhelatan IKF 2008 berikut ini.

Bagaimana sebetulnya riset-riset yang dilakukan ITB selama ini?

Riset-riset yang dilakukan ITB selama ini adalah bagaimana menemukan suatu penemuan untuk kemudian ditingkatkan pada skala yang mendekati prototipe. Setelah itu, prototipe ini diturunkan lagi menjadi skala industri. Untuk skala industri ini, bukan lagi urusan perguruan tinggi tetapi dunia industri. Namun link antara perguruan tinggi dan industri belum baik. Tugas saya antara lain mengusahakan hasil produk-produk ini digunakan dunia industri. Dunia industrilah yang nanti memroduksinya. Hasilnya bukan saja dapat dirasakan dunia industri tetapi juga masyarakat. ITB sebagai perguruan tinggi juga mempunyai income dari hasil penelitiannya. Nanti income tersebut digunakan kembali untuk penelitian.
Kalau begitu, riset-riset yang dilakukan ITB selama ini baru sebatas prototipe. Bagaimana dengan pengembangan keilmuannya?
ITB tidak hanya menjalin hubungan dengan dunia industri agar mereka mau mengembangkan prototipe-prototipe hasil temuan kita. Tetapi selalu ada tiga aspek yang dikembangkan dari suatu riset. Pertama hasil penelitian tersebut bisa menjadi suatu produk paten. Kedua menjadi suatu tulisan ilmiah pada jurnal internasional ataupun jurnal nasional yang terakreditasi (klasifikasi tinggi). Ketiga menjadi produk yang membantu pemecahan permasalahan bangsa ini. Contohnya bagaimana meningkatkan hasil pangan (padi) dengan menggunakan lahan, air, dan pupuk yang sedikit tetapi menghasilkan produk panen yang lebih banyak. Jadi, menjalin hubungan dengan dunia industri hanya salah satu saja dari pengembangan hasil-hasil riset yang kita lakukan.

Bagaimana respons dunia industri sendiri terhadap hasil-hasil riset yang dilakukan perguruan tinggi?

Inilah masalahnya. Diseminasi hasil temuan tidak bisa dimanfaatkan masyarakat karena dunia industri tidak merespons hasil-hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi. Padahal, tanggung jawab perguruan tinggi hanya sampai pada prototipe. Pengembangan prototipe selanjutnya sudah menjadi tanggung jawab dunia industri. Persoalannya, dunia industri hanya mau mengembangkan riset-riset yang sudah bersifat massal. Akibatnya, banyak hasil penelitian yang berhenti hanya pada tingkat prototipe.

Lalu, bagaimana dengan masalah paten? Apakah hasil-hasil riset yang dilakukan ITB sudah dipatenkan?

Inilah masalahnya. Belum banyak hasil riset ITB yang dipatenkan. Paling, baru 85 riset yang sudah dipatenkan. Dari jumlah itu pun, hanya 8 yang sudah sertifikat dan baru 2 yang dipakai dunia industri.

Wah, sedikit sekali...?

Ya, memang! Dunia industri kita hanya mau menerima barang jadi yang sudah dalam skala produksi. Mereka enggan menggunakan prototipe yang belum menjadi produk massal. Padahal, kalau mereka mau menggunakan prototipe tersebut, bukan saja produksi mereka akan lebih baik tetapi juga menghidupkan penelitian di perguruan tinggi dan membantu masyarakat hidup lebih baik. Hasil temuan perguruan tinggi kan baru akan dirasakan masyarakat bila prototipe yang dibuatnya dikembangkan industriawan.

Lalu, bagaimana dengan masalah paten? Ternyata masih sangat sedikit juga?

Untuk Indonesia saja, yang mengajukan proses paten hanya 400 per tahun. Yang mengajukan proses paten itu pun hanya 7% saja yang berasal dari dalam negeri. Sedangkan sisa terbanyaknya berasal dari luar negeri. Kondisi ini memang sangat memalukan. Apalagi bila dibandingkan dengan Amerika. Di negeri ini, sebanyak 150.000 proses paten yang diajukan per tahun. Sedangkan di Jepang sudah mencapai 3.000 proses paten yang diajukan per tahun. Itulah sebabnya, mengapa ITB sekarang sangat peduli dengan masalah paten ini.

Apa yang menyebabkan orang enggan mematenkan hasil-hasil temuannya? Konon malah banyak dosen yang malas mematenkan hasil temuannya?

Memang banyak dosen yang tidak mau mematenkan produknya. Mereka tidak terlalu antusias karena prosesnya lama bisa mencapai lima tahun. Apalagi dosen-dosen farmasi, kalau sudah masuk uji klinis, sangat melelahkan. Mereka perlu ratusan orang yang mau digunakan sebagai eksperimen. Tetapi tugas saya memang harus meningkatkan keinginan dosen dalam mematenkan karya-karyanya. Sebab tidak setiap dosen peduli dengan paten atau tulisan ilmiah. Misalnya, beberapa dosen ada yang membuat mesin untuk membuat minyak jarak, ada juga yang membuat penjernihan air, memproses crude palm oil (CPO), dan membuat teknologi untuk mengangkat bangunan miring, tetapi mereka sengaja tidak mematenkannya. Anggapan mereka, yang penting bisa digunakan untuk kepentingan pembangunan.

Untuk "positioning" ITB sebagai "world class university", hal apa yang menurut Anda masih dirasakan kurang dan harus dikembangkan?

Keinginan kami adalah meningkatkan jumlah karya ilmiah. ITB sebagai world class university harus mempunyai tulisan di jurnal internasional lebih banyak lagi. Untuk target 2009 ini, paling tidak ada seperempat dari jumlah dosen bisa menghasilkan makalah. Sedikitnya akan ada sekitar 200 tulisan dalam jurnal internasional. Sedangkan jumlah dosen ITB saat ini hampir 100 orang. Kalau sampai dua ratusan saja, itu sudah bagus. Sedangkan untuk jurnal nasional paling tidak setengah daripada jumlah dosen itu sudah menulis.

Untuk "positioning" seperti itu tentunya memerlukan anggaran riset yang lebih besar?

ITB akan mengupayakan jumlah anggaran penelitian terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika anggaran riset 2008 hampir mencapai Rp 40 miliar, anggaran riset 2009 harus mencapai Rp 50 miliar. Dana itu bisa diperoleh dari ITB Rp 13 miliar, insentif Menristek 11 miliar lebih, dan sumber-sumber lain. Pokoknya harus terus meningkat karena target dosen menulis karya ilmiah pun harus meningkat.


Bapak Prof. Indratmo Soekarno lama menjabat sebagai Ketua Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) ITB. Lulusan Teknik Sipil ITB (1983), Magister Strathclyde University, UK (1988), dan Doktor Strathclyde University, UK (1991) ini, banyak meneliti dan menulis karya ilmiah tentang hidraulik dan rekayasa air.

Thursday, December 11, 2008

Harga BBM di Indonesia Harus Diturunkan!

Sikap kritis masyarakat indonesia khususnya mahasiswa harus ditunjukkan dalam menyikapi kebijakan pemerintah kita yang hanya menurunkan harga premium sebesar 500 rupiah saja. Padahal seperti yang telah diketahui harga minyak mentah dunia telah merosot hingga mencapai US$46.81 (12 desember 2008).

Mantan Menko Ekonomi Indonesia, Bpk Kwik Kian Gie memberikan analisisnya terkait permasalahan ini. Berikut tulisan beliau yang saya kutip dari koraninternet.com.

Mari kita segarkan ingatan kita ketika bensin premium harganya dinaikkan dari Rp 2.700 menjadi Rp 4.500 per liter. Ketika itu dikatakan bahwa yang menjadi landasan adalah harga minyak mentah yang US$ 60 per barrel dan nilai tukar rupiah yang Rp 10.000 per dollar AS.

Di bawah saya berikan perhitungan yang disederhanakan dan hanya garis besarnya. Perhitungan didasarkan atas data dan asumsi : harga minyak mentah US$ 50 per barrel. Kurs rupiah Rp 12.000 per US$. Produksi 930.000 barrel per hari. Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun. Bagian Indonesia 70 % dari produksi atau lifting. Biaya-biaya lifting, refining dan transporting keseluruhannya rata-rata US$ 10 per barrel. Seluruh minyak mentah dijadikan satu macam BBM saja, yaitu bensin premium. Produk sampingan yang merupakan reducing factors tidak dihitung.

Terlebih dahulu saya kemukakan alur pikir dan perhitungan kasar pemerintah ketika menaikkan harga bensin premium dari Rp 2.700 menjadi Rp 4.500 per liter.

Untuk dijadikan ekuivalen dengan harga minyak mentah, jumlah ini harus dikurangi dengan biaya-biaya lifting, refining dan transporting sebesar US$ 10 per barrel. Biaya ini sama dengan (10 : 159) x 12.000 = Rp 755 (dibulatkan) per liter.

Maka harga bensin premium Rp 4.500 per liter ketika itu ekivalen dengan harga US 61,55 per barrelnya. Perhitungannya : Harga per barrel dalam dollar AS menjadi (4.500 x 159) : 10.000 = US$ 71,55. Dikurangi dengan biaya-biaya lifting, refining dan transporting yang US$ 10 menjadi US$ 61,55.

Jadi ketika menaikkan harga bensin premium dari Rp 2.700 menjadi Rp 4.500 per liternya, harga ini sudah ekuivalen dengan harga yang lebih tinggi dari harga minyak mentah internasional yang hanya US$ 60 per barrelnya. Tetapi karena perhitungan ini secara sangat garis besar dan kasar, kita anggap sama saja, atau Rp 4.500 per liter bensin premium ekuivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 60 per barrel.

Maka ketika itu pemerintah mengatakan bahwa mulai hari itu kita tidak mengenal lagi subsidi. Harga akan naik turun persis sama dengan ekuivalennya harga minyak mentah di pasar internasional.

Nah kalau jalan pikiran pemerintah (yang walaupun menurut saya salah) kita ikuti, harga Rp 5.500 per liter bensin premium ini didasarkan atas harga minyak mentah berapa dan atas dasar nilai tukar rupiah berapa?

Kalau kita anggap nilai tukar yang diambil Rp 12.000 per dollar AS, harga bensin premium yang Rp 5.500 per liter ekuivalen dengan harga minyak mentah US$ 64,53 per barrel. Hitungannya sebagai berikut. Menentukan harga bensin premium yang Rp 5.500 per liter menjadi angka ekuivalennya minyak mentah harus dikurangi dengan biaya-biaya lifting, refining dan transporting sebesar Rp 755 per liter, sehingga menjadi Rp 4.745 per liternya atau Rp 754.455 per barrelnya. Dengan kurs Rp 12.000 per US$, ini sama dengan US$ 63 (dibulatkan). Biaya-biaya lifting, refining dan transporting yang dalam perhitungan sebelumnya Rp 630 per liter sekarang menjadi Rp 755, karena kurs sudah menjadi Rp 12.000 per US$.

Jelas bahwa harga bensin premium yang Rp 5.500 per liternya lebih mahal dari harga minyak mentah di pasar internasional yang berlaku, karena sekarang ini berkisar pada US$ 50 per barrelnya. Artinya, pemerintah memberlakukan harga bensin untuk rakyatnya dengan harga yang lebih tinggi dari harga minyak mentah internasional.

Maka kalau istilah subsidi tetap saja dipakai dan asumsi harga minyak mentah US$ 50 per barrel, kurs Rp 12.000 per US$, untuk setiap liternya rakyat memberi subsidi kepada pemerintah sebesar Rp 971. Dengan konsumsi sebesar 60 juta kiloliter subsidi keseluruhannya sebesar Rp 58,26 trilyun. Perhitungannya sebagai berikut : Harga minyak mentah per liter = (50 : 159) x 12.000 = Rp 3.774. Ditambah biaya-biaya sebesar Rp 755 menjadi Rp 4.529. Dijual dengan harga Rp 5.500. Untung Rp 971. Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun, sehingga rakyat memberi subsidi kepada pemerintah sebesar 60 juta kiloliter dikalikan dengan Rp 971 = Rp 58,26 trilyun.

Kalau kita tidak menggunakan metode replacement value dalam menghitung harga pokoknya bensin premium, melainkan dengan metode cash basis, atau berapa perbedaan antara uang yang diterima dan dikeluarkan, kelebihan uang pemerintah neto (setelah dikurangi dengan kebutuhan untuk impor neto) sebesar Rp 263,7 trilyun per tahun. Hitungannya sebagai berikut :

Harga jual Rp 5.500 per liter. Harga pokok Rp 755 per liter. Kelebihan uang tunai per liternya Rp 4.745. Konsumsi sebesar 60 juta kiloliter sehingga kelebihan uang tunainya 60 juta kiloliter dikalikan dengan Rp 4.745 atau Rp 285 (dibulatkan) trilyun per tahun.

Namun produksi kita sebesar 937.000 barrel per hari atau per tahun 342 juta barrel. Yang milik Indonesia 70 % atau = 239 juta barrel. Kebutuhannya konsumsi sebanyak 60 juta kiloliter = 377 juta barrel. Kekurangannya yang 138 juta barrel (239 juta barrel – 377 juta barrel) harus diimpor dengan harga US$ 50 per barrel. Kurs Rp 12.000 per US$. Uang rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor adalah: 138 juta x 50 x 12.000 = Rp 83 trilyun. Kita lihat tadi, kelebihan uang tunainya Rp 285 trilyun, sehingga pemerintah netonya kelebihan uang tunai sebesar Rp 285 trilyun – Rp 83 trilyun = Rp 202 trilyun.

Alangkah malangnya rakyat kita yang harus membeli bensin premium dengan harga yang mengandung subsidi kepada pemerintah sebesar Rp 202 trilyun. Rakyat ini dalam keadaan kemiskinan dan sedang menderita didera krisis ekonomi yang jelas sudah memasuki resesi dan sangat mungkin menjadi depresi.

Monday, December 8, 2008

Alumni SMANSA bogor jadi presiden BEM UI 2009

Pagi ini jam 04:48, saya mendapatkan sms dari kawan. isinya: KETUA BEM UI 2009: TRIE SETIATMOKO. Hasil perhitungan: Yudha 3318(36.9 %)Tiko 4110 (45.7 %) Pradana 1190 (13.2 %) abstain 210 (2.3 %) tdk sah 164 (1.8 %).
selamat kawan! Semoga kemenangan ini diberkahi Allah SWT. Semoga kemahasiswaan UI khususnya dan Indonesia pada umumnya semakin bermanfaat buat bangsa ini.