
Saya menyebutnya sebagai musibah. Karena kejadian yang telah kita ketahui bersama ini, bukanlah suatu kejadian yang kecil melainkan kejadian yang merenggut nyawa teman kita. Dan tentu saja kehilangan nyawa ini (nyawa seorang muslim) lebih berat dibanding hilangnya bumi dan seisinya. Rasulullah S.A.W bersabda dalam riwayat hadistnya yang terkenal,”Hilangnya
Bumi seisinya adalah lebih ringan di sisi Allah S.W.T daripada hilangnya nyawa
seorang Muslim”.
Kronologis Kejadian
Berikut kronologis kejadian yang saya kutip dari bandung.detik.com
Berikut kronologi saat Dwi melakukan kegiatan orientasi mahasiswa baru yang dianggap ilegal oleh pihak ITB, yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) di Pager Wangi, Lembang, Sabtu 7 Februari, dan Minggu 8 Februari 2009.
Kronologi ini berdasarkan hasil penyelidikan oleh Komisi Penegakan Norma Kemahasiswaan ITB.
- Sabtu, sebanyak 82 mahasiswa angkatan 2007 dikumpulkan di Lebak Siliwangi. Lalu rombongan itu diberangkatkan pada pukul 12.00 WIB dengan menggunakan angkot menuju Desa Pager Wangi, Lembang.
- Sebelum berangkat, mahasiswa diperiksa kesehatannya oleh tim medis Atlas Medical Pioneer (AMP) FK-UNPAD. Saat diperiksa, para mahasiswa dinyatakan sehat.
- Angkot yang mengangkut rombongan tiba di Lembang. Selanjutnya, para mahasiswa itu berjalan kaki sejauh 1,2 kilometer menuju lapangan II di desa Pager Wangi. Namun, saat baru berjalan 400 meter, Dwi terjatuh. Saat itu Dwi ditemani dua rekannya. Kemudian Dwi disuruh minum. Akan tetapi, Dwi diajak kembali untuk meneruskan perjalanan hingga tiba di lapangan II. Dwi terlambat 10 menit dibandingkan rekan-rekannya.
- Pukul 14.00-14.40 WIB, rombongan melakukan makan siang dan sholat.
- Pukul 15.35-18.20 WIB, perjalanan dari lapangan II dilanjutkan menuju ke Pos 1. Dwi masih bisa berjalan walau agak kesulitan. Kala itu, Dwi berjalan sambil dipapah oleh dua orang melalui jalan yang menanjak sejauh 100 meter. Saat dipapah ini, Dwi merasakan sakit di bagian punggung. Singkatnya, Dwi mampu berjalan hingga Pos 6. Ketika tiba di Pos 6, aktivitas Dwi hanya duduk dan belajar berjalan.
- Pukul 18.20-18.45 WIB, Dwi dibawa menuju Pos Atlas Medical Pioneer (AMP) dengan dipapah. Dwi mengeluh sakit di bagian pinggang kiri. Tak lama setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke lokasi terakhir di SMA Mekar Wangi.
- Pukul 19.40-20.30 WIB, Dwi pingsan dan langsung mendapat perawatan dari tim medis AMP.
-Pukul 20.30-22.10 WIB, Dwi dalam kondisi tidak bisa berdiri. Kemudian tim medis AMC membalurkan pakai kayu putih. Dwi sempat dirangkul untuk berdiri dan duduk kembali.
- Pukul 00.00 WIB, Dwi diperiksa tim medis dan dinyatakan sehat kembali. Dwi sempat ditinggal sendirian. Lalu, panitia menanyakan kepada Dwi apakah ingin pulang. Dwi menjawab ingin pulang.
Minggu 8 Februari, dini hari :
-Pukul 01.30-02.20 WIB, Dwi sudah dalam kondisi parah. Akhirnya dirinya dibopong ke luar ruangan.
- Pukul 02.20-02.25 WIB, setelah menunggu tim medis dan kendaraan, kondisi Dwi tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Selain itu, Dwi mengeluarkan air liur dan tidak merespon cahaya. Tak lama, mobil datang. Tetapi Dwi tidak bisa masuk ke dalam mobil, karena Dwi memiliki badan yang besar. Saat diturunkan kembali, Dwi sempat buang air besar di celana dan tidak sadar. Tak itu saja, mulut Dwi pun dipenuhi busa kekuningan, nadi radialis dan karotis tidak teraba, tidak bernapas dan suhu dingin. Tim medis hanya memberikan nafas buatan dan pijat jantung.
- pukul 03.15 WIB, Dwi tiba di RS Borromeus dengan menggunakan mobil pick-up. Namun
sayang, Dwi sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Kaderisasi Kemahasiswaan ITB
Saya sebagai mahasiswa ITB terus terang kaget dengan kejadian ini. Terus terang kejadian ini adalah satu-satunya kejadian yang menimbulkan korban jiwa selama saya kuliah (tahun 2005) hingga sekarang. Memang dari pertama kali merasakan kaderisasi (OSKM 2005) saya sudah "mencium" stigma-stigma negatif terkait dengan kaderisasi kemahasiswaan di ITB. Informasi dari teman dan saudara yang saya dengar tentang kerasnya kaderisasi di ITB sudah diperoleh sejak awal masuk ITB. Tapi kenyataannya, hal tersebut tidak benar seutuhnya. OSKM 2005 yang saya ikuti sama sekali tidak merujuk pada perpeloncoan ataupun kekerasan. Seluruh kegiatan berorientasi pada pembelajaran. Kemudian kaderisasi berlanjut ke jenjang himpunan. Himpunan saya, HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) merupakan himpunan yang "damai". Walaupun kaderisasinya cukup lama, sekitar 3 bulan, kami sama sekali tidak mendapatkan kekerasan sedikitpun. Justru saya merasakan pihak panitia dan program studi memberikan banyak manfaat dan fasilitas yang luar biasa bagus. Pernah suatu ketika, saya dan teman-teman diberangkatkan ke depo pendidikan TNI di lembang, Bandung. Acara yang pada awalnya ditujukan untuk melantik kami, penuh dengan kegiatan yang bermanfaat. Outbond, simulasi, psikotest, acara keakraban dan lain-lain. Dan yang mengejutkan adalah kami malah dikasih makanan yang high quality ^_^. KFC, pepsi, nasi komplit, pokoknya empat sehatlah. Selidik punya selidik ternyata acara ini didukung penuh oleh program studi. Artinya seluruh dana ditanggung oleh Prodi kami. Yah, sedikit tradisi himpunan memang ada. Agak aneh memang, tapi it's ok, no problemo. Yang jelas kami sedikitpun tidak mengalami kekerasan fisik seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Maksud kekerasan fisik seperti dipukul, dan sejenisnya.
Secara umum memang sejak tahun 2005, ITB dan seluruh civitas akademiknya sudah menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam kaderisasi kemahasiswaan. Kekerasan yang menjadi tradisi di himpunan memang ada sejarah dan latar belakangnya. Kurang lebih budaya atau tradisi semacam ini dilahirkan sejak adanya pendudukan militer di kampus ITB. Jadi mungkin saja, kaderisasi yang keras semacam itu dilakukan untuk melatih fisik dan mental mahasiswa ITB dalam upaya menghadapi militer. Itu dulu, kemudian apakah masih bentuk kegiatan semacam itu masih perlu diberikan setelah era pendudukan militer berakhir? Nah tentu saja tidak. Tapi masalahnya lain, ternyata kegiatan semacam itu disinyalir mampu menyolidkan peserta kaderisasi (mahasiswa). Ada sindrom senasib sepenanggungan. Kegiatan semacam itu diharapkan menjadi kenangan indah ketika sudah lulus nantinya. Hal ini mungkin yang menjadi latar belakang teman-teman melakukannya.
Namun, semakin lama kegiatan semacam itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi di awal tahun 2000-an muncul kasus kekerasan IPDN yang menjadi buah bibir masyarakat. Hal inilah yang kemudian menggugah teman-teman mahasiswa untuk kembali mengkaji konsep kaderisasi mereka. Hal ini pula yang mendorong penghapusan kegiatan sejenis perpeloncoan di ITB sejak tahun 2005. Rektorat lebih ketat dalam mengawasi kegiatan kaderisasi ini. Puncaknya adalah pada tahun 2006. Dimana OSKM 2006 yang menjadi pintu gerbang kaderisasi kemahasiswaan ITB dilarang oleh pihak rektorat. Akibatnya, peserta OSKM 2006 ini terbilang sedikit. Hanya kurang lebih 100 mahasiswa saja. Padahal jumlah mahasiswa baru ITB sebanyak 3000-an. OSKM 2006 dinyatakan ilegal oleh rektorat. Sehingga mahasiswa baru ITB enggan untuk ikut dalam kegiatan ini. Saya merasakan betul peristiwa ini, karena turun langsung menjadi panitia OSKM 2006. Peristiwa ini kemudian yang mengharuskan seluruh organisasi kemahasiswaan ITB mengkaji ulang konsep kaderisasi mereka agar tidak dikatakan ilegal. Praktis, seluruh organisasi ini akan berhati-hati dalam mengkader mahasiswa agar tidak mengarah kepada perpeloncoan. Hal ini terbukti di lapangan. Tidak ada lagi kegiatan berisi perpeloncoan dalam kaderisasi kemahasiswaan ITB. Bahkan push-up sekalipun tidak ada atau kalaupun ada sangat sedikit yang menerapkan.
Kemudian ketika musibah yang menimpa teman-teman IMG ini muncul ke permukaan, muncul spekulasi atau gembar gembor bahwa kemahasiswaan ITB melakukan perpeloncoan. Saya katakan dan saya tegaskan bahwa hal tersebut salah besar. Seluruh himpunan, unit dan organisasi kemahasiswaan di ITB lainnya tidak melakukan perpeloncoan. Kami sudah mengonsep kegiatan kaderisasi ini dengan sebaik mungkin. Tujuan yang diharapkan tentunya adalah menghasilkan kader-kader mahasiswa yang memiliki nilai-nilai luhur sesuai dengan tujuan organisasi tersebut. Dan tentunya untuk mendukung peran mahasiswa sebagai agen perubahan, Iron stock, dan penjaga nilai (guardian of value).
Evaluasi
Ini adalah musibah, sesuatu yang tidak kita duga. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah: 155-157
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk
Seperti yang kita ketahui bahwa kematian hanya diketahui oleh Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Namun tentunya kita harus senantiasa bertindak hati-hati dan berlaku amanah dalam menjalankan suatu kegiatan. Apalagi kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang beresiko tinggi seperti halnya yang dilakukan oleh teman-teman IMG.
Saya sadar, pasti ada tujuan dari kegiatan yang membutuhkan fisik kuat dalam kaderisasi mahasiswa/himpunan. Terlebih bagi jurusan yang memang berorientasi lapangan seperti minyak, tambang, geologi dan geodesi.
Oleh karena itu, diperlukan suatu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang mengutamakan keselamatan atau safety. Saya belajar banyak dari Batalyon I/ITB Resimen Mahawarman (Menwa). Dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kami selalu diharuskan untuk mengutamakan safety atau keselamatan. Saya ingat betul ketika menjalani proses kaderisasi menwa ini. Kami (peserta) dicek kesehatan dan fisik secara cermat oleh pihak yang berkompeten. Pemeriksaan kesehatan yang saya alami ternyata merupakan standar khusus bagi anggota TNI. Tidak satu atau dua menit saja cek kesehatan tersebut. Mungkin bisa memakan waktu hingga 1 jam setiap orangnya. Belum lagi dengan cek fisik. Kami dites lari dan sebagainya untuk memantau apakah fisik kami layak atau tidak untuk mengikuti kegiatan. Bagaimana ketika di lapangan? Kaderisasi yang berat tersebut menjadi nyaman saya ikuti karena saya merasa didampingi oleh pelatih. Kondisi kesehatan menjadi pertanyaan utama dalam kegiatan. Seorang peserta kaderisasi wajib melapor jika kondisinya menurun untuk kemudian dicek langsung oleh tim medis TNI yang profesional. Pokoknya saya merasa aman.
Kemudian ketika giliran saya mengkader atau menjadi pelatih. Saya dan kawan-kawan menwa diharuskan untuk memperhatikan safety. Perencanaan yang matang diikuti dengan survey lapangan yang akurat diharapkan mampu menimalisir terjadinya kecelakaan. Dan ini betul-betul saya rasakan ketika memimpin kegiatan di lapangan. Justru saya yang akan kena hukuman jika tidak memperhatikan kondisi keselamatan peserta didik. Dan masih banyak lagi pengalaman yang saya peroleh berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan yang beresiko tinggi.
Dengan pengalaman yang saya miliki tersebut saya mencoba memberikan masukan bagi teman-teman yang ingin melaksanakan kegiatan lapangan yang sejenisnya:
1. Perhatikan selalu keselamatan. Keselamatan adalah nomor satu.
2. Cek kesehatan peserta dengan secermat mungkin. Terlebih bila pesertanya lebih dari 50 orang perhatikan betul masalah ini. Lakukan walaupun membutuhkan waktu yang lama. Libatkan pula tenaga profesional
3. Rencanakan sebaik dan selengkap mungkin kegiatan tersebut. Lakukan survey lapangan dengan teliti. Pastikan titik-titik kritis yang beresiko menimbulkan kecelakaan. Kemudian siapkan pula jalur evakuasi jika ada peserta yang mengalami kelelahan atau gangguan kesehatan. Periksa puskesmas atau rumah sakit terdekat.
4. Siapkan mobil ambulans untuk mengantisipasi peserta yang mengalami gangguan kesehatan. Mobil ambulans tersebut harus mengikuti rombongan peserta selama kegiatan, terlebih lagi jika mengadakan kegiatan sejenis Long March.
5. Sediakan pula tenaga medis profesional dan perlengkapan P3K yang ikut mendampingi peserta selama kegiatan.
Kelima poin di atas merupakan bagian dari tindakan safety yang saya dapatkan selama berkegiatan di menwa ITB. Alhamdulillah, selama ini kami cukup berhasil melaksanakan kegiatan-kegiatan yang notabene-nya beresiko menengah ke atas (^_^). Oiya, ada satu fakta yang menarik. Jadi suatu waktu kami menerima anggota baru. Ada seorang peserta yang sangat bersemangat untuk bergabung bersama kami. Namun sayangnya mahasiswa tersebut ditolak oleh kami. Dengan alasan kondisi fisiknya tidak layak untuk mengikuti kegiatan kami. Peserta tersebut tetap "keukeuh"/kukuh dengan pendiriannya. Dia memaksa-maksa kami agar tetap dibolehkan mengikuti kaderisasi. Sampai akhirnya komandan kami turun langsung dan memutuskan untuk tidak menerima si calon peserta ini. Suatu keputusan bijak yang sangat saya apresiasi hingga detik ini.
Finally, saya ikut mendoakan kawan kita, almarhum Dwiyanto Wisnugroho. Semoga Allah SWT mengampuni, mengasihi dan memaafkan segala kesalahannya. Amin. Dan semoga dengan adanya musibah ini, bukan malah menurunkan aktivitas kemahasiswaan kita, melainkan musibah ini menjadi cambuk bagi kita (mahasiswa) untuk meningkatkan prestasi dan kontribusi kemahasiswaan. Hidup Mahasiswa!




5 komentar:
Assalamu'alaikum wr. wb.
Mas anggit..
saya boleh ikut komentar y..=D
Sebelumnya saya turut berduka cita kepada almarhum dwi..smoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT..aamiin
nama saya gumi, mahasiswa SBM angkatan 2010(2007)
kebetulan di SBM ndak ada osjur..tapi saya pernah lihat malam2 dari sebuah himpunan yang sefakultas dengan Geodesi..wkt itu saya membantu orangtua mahasiswa untuk menjemput anaknya yang sedang osjur..
ketika itu saya ke Babakan Siliwangi..sekitar pukul 10 malam, dengan cuaca hujan..saya lihat mahasiswa disuruh untuk push-up, skot jam..
ketika ditanya kepada panitia..jawbannya "buat ngangetin badan.."
trus osjur katanya untuk melatih kepemimpinan, biar ndak manja,kebersamaan,dsb..
pertanyaanya..
apakah itu cara untuk melatih kepemimpinan?(coba banyak baca buku lagi)
klo jaman perang sih boleh2 aja..=D
banyak yang merasa jenuh dan terpaksa ketika osjur..(padahal bisa dibikin boot camp, outbound..yang tujuannya juga melatih kepemimpinan+fun+berisi)
tambahan alasan dari ketua osjur.."kita dulu juga diginiin sama angkatan atas, jadi kita juga buat seperti ini"
msih byk yg mau saya tulis..
trima kasih dah di izinin..
tetapi tetap MAHASISWA, ITB, dan ortu mahasiswa bertanggung jawab atas semuanya..
Untuk TUHAN, BANGSA, dan ALMAMATER..
wa'alaikum salam wr wb..
ya, sy juga termasuk mahasiswa yang mengkritisi osjur2 semacam itu. dalam artian osjur tersebut ngga jelas kegiatannya diarahin kemana. oke kalo memang kegiatan fisik itu diperlukan.. tapi harus dijelaskan maksud tujuannya apa..
trus kalo menggunakan metode yang menguras fisik, keselamatan peserta harus diutamakan. makanya, perencanaannya harus matang. masak kita mau long march tapi ngga ada ambulan atau mobil evakuasi. kan resikonya tinggi kalo ada yang sakit di tengah jalan dan harus dibawa ke rumah sakit saat itu juga..
makasih gum..=)
Bener banget nggit, yang penting adalah perencanaan yang matang. Saya juga pernah jadi panitia ospek, keselamatan itu pentiing bgt karena menyangkut nyawa orang...
Assalamualaikum wr. wb.
akhirny bisa ketemu blog a anggit, haha,, sy stuju kalau ITB sedang terkena musibah..
cuma mau kritik, gk semua himpunan dan unit mengkonsep kaderisasinya dengan baik lho,, dan dr mreka yang mengkonsep dengan baik, gk semuanya menjalankan konsep tersebut dengan penuh komitmen. karena pada kenyataannya ada saja kegiatan "ilegal" yang tidak tertulis di rundown acara kaderisasi. dan sayangny, hal ini tidak sedikit.. mungkin musibah ini bisa jadi pembenaran rektor kalau kaderisasi di ITB berbahaya,, sayangny, yang d ekspos hanya korban meninggal, padahal kalau kita mau telusuri, sebelumnya sudah ada tanda2 kaderisasi yg diterapkan saat ini berbahaya, seperti teman kita yang sampai masuk rumah sakit krn gagal ginjal, bahkan d prodi sy, sewaktu kaderisasi dahulu ad yang patah tulang..
sy mau mengungkapkan realita yang sy temui di ITB selama ini terkait kaderisasi, yg sy fikir sudah jadi rahasia umum,,
1. mahasiswa baru sebagian besar ikut kaderisasi saat ini karena tekanan "negatif", itulah yg terjadi, anggapan kalau tidak ikut kaderisasi maka akan dipersulit kuliahnya, dikucilkan, dll, mnjadi sesuatu yg menakutkan, walaupun kenyataannya tidak spt itu,
2. fase terburuk dari realita no 1 diatas adalah tercipta orang2 yg "munafik" sy katakan spt ini karena banyak sekali dari mhs baru tersebut rela ikut acara kaderisasi dalam bentuk "apapun" asal dapat jahim, sy sendiri pernah merasakan, 1 angkatan (sy jg) menunda solat isya sampai jam 11 malam hanya krn acara "ramah-tamah" (baca: bulying) dengan mhs "swasta". bahkan senior2 yg berlabel "ikhwan" pun tidak berkutik, mreka hanya diam (sebagian ikutan jg,, hufft..) skedar curhat, inilah kekecewaan pertama dan terbesar sy terhadap ITB, kalau ingat massa itu,, sy mau nangis, nangis krn tdk bs brbuat ap2, nangis melihat "ikhwan2" senior diam melihat kezhaliman, tak trkecuali yg lulusn smansa.
sy pikir, kaderisasi terbaik adlah dngn contoh/suri tauladan. bagaimana mungkin, seorang senior mengatakan juniornya MALAS, padahal sang senior mengulang hampir disemua matakuliah, atw senior berkata utk brbicara sopan, pdhal mreka senantiasa menghardik?
pengkaderan mmng pnting, krn mnyngkut penurunan nilai2, namun bukan nilai kemunafikan, humbar emosi, atau jago2an. seharusny itu nilai humanis, bgaimana kt bersikap thd orng lain, saling menghargai, mau bkrjasama, mmbangun team yg solid, dll. jd saya merasa, pengilegalan kaderisasi oleh rektor msh mmpunyai alasan yg kuat,
@bentang
wah kaderisasi yg semacam itu memang harus ditinggalkan..ngga bermanfaat. alhamdulillah himpunan saya udah "insyaf".
Usul saya, kamu diskusi aja sama ketua himpunan atau temen2 yang aktif banget. sampaikan aja ide2 bagus ttg kaderisasi. kalo kita diam aja, masalah ini ngga akan beres2..iya ngga?
semoga Allah SWT memberi hidayah kpd kita smua :)
Post a Comment