
Ada satu pengalaman lagi yang melekat di benak saya, yaitu jalan-jalan ke bukit kapur ciampea. Jadi inget perkataan temen satu tim nasyid di SMA, Arief, kebetulan dia orang gunung putri, dan katanya jangan bilang orang gunung putri kalo belum naik bukit yang disebut gunung putri. saya jadi terinspirasi buat menerapkan hal yang sama untuk bukit deket rumah. bukit kapur yang menjadi icon daerah ciampea.
saya perlu memberi deskripsi singkat tentang bukit ini. bukit ini termasuk golongan peninggalan sejarah masa lalu. saya bukan ahli geologi, tapi yang saya perkirakan bukit ini berasal dari pulau karang zaman purba. dari pelajaran geografi yang saya peroleh, ada suatu masa dimana laut zaman dahulu kala lebih tinggi dibanding saat ini. daratan atau pulau yang ada saat ini dulunya adalah lautan. karena perubahan-perubahan iklim dan pergerakan kerak bumi, terdapat lautan-lautan yang menyusut sehingga munculah pulau-pulau yang indah seperti saat ini. dan yang saya yakini bukit kapur ciampea itu dulunya adalah pulau karang dan di sekelilingnya digenangi oleh air, jadi seperti lautan pada umumnya.
Bukit kapur ciampea atau ciampea karst akan terlihat ketika kita melewati daerah ciampea (ya iya lah :)..). Maksud saya, jika temen2 mau lihat bukit ini, ngga perlu susah nyarinya karena ketika kita naik angkot atau kendaraan dari arah bogor maka sejak radius 2 kilometer, bukit ini akan terlihat tinggi menjulang. Tentu dengan hawa panas yang menyelimutinya. Kira-kira kalo dari kampus IPB dramaga naik angkot 5 menit, bukit ini udah keliatan. Dari tebing-tebing yang bisa kita lihat dapat dengan jelas kita kenali bukit ini memang bener2 bukit kapur. tapi bukit ini tidak seperti bukit2 kapur di padalarang. perbedaannya terletak pada jenis batuan yang terdapat di keduanya. walaupun sama2 penghasil kapur, bukit kapur ciampea berumur lebih muda dibanding bukit di padalarang. hal ini dikuatkan dengan data bahwa bukit kapur ciampea tidak mengandung batuan marmer sebanyak bukit padalarang. batuan marmer adalah turunan batuan kapur yang telah melewati tekanan dan temperatur yang dahsyat. kemudian kalo kita amati, bukit kapur ciampea itu banyak sekali pohon-pohon dan tanaman2 hijaunya. sementara bukit padalarang ngga bakalan kita temukan kecuali bukit2 kecil di sekelilingnya. hal ini menunjukkan bukit ciampea tidak seluruhnya batuan kapur yang keras tetapi juga mengandung tanah yang subur dan bisa ditanami tumbuh-tumbuhan.
rumah saya tepat berada di kaki bukit ini. setiap pulang sekolah semasa sma sy hampir selalu menyaksikan dan mengamati langsung bukit ini. saya senang melewati pabrik kapur yang setiap harinya menghasilkan kapur kasar dengan tanurnya yang cukup tinggi. di sampingnya ada juga perusahaan penambang kapur yang dulu waktu saya smp sering sekali meledakkan tempat2 tertentu di bukit kapur tersebut. tentunya mereka sedang menambang kapur tersebut. Panas sekali kalo lewat tempat2 itu. tapi terus terang saya senang melihat kedua perusahaan ini. mereka bisa memanfaatkan kekayaan alam yang ada dan juga memberdayakan penduduk daerah kampung saya. mungkin hal-hal inilah yang menguatkan saya untuk masuk teknik kimia. Dan sekarang saya tau apa2 saja kekurangan 2 pabrik ini dari sudut pandang engineering. tapi ngga akan saya bahas sekarang. satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah banyaknya ladang dan sawah di kaki bukit ini. ketika saya pulang sekolah dan melewati ladang2 ini, ada suasana yang membuat hati ini rindu. saya sangat bersyukur punya rumah di tempat seperti ini yang suasana kedamaian khas alamnya tidak bisa ditemukan di kota. Meskipun jauh (25 km dari pusat kota) tidak membuat diri ini patah arang (^_^).
Hingga suatu saat, "babaturan" saya satu pesantren, mengajak saya dan kakak "berpetualang". Katanya sih mumpung liburan,kan jarang2 tuh kita bisa jalan2 bareng, saya sih senyum2 aja diajakin. tapi karena si mas yudhi (my brother) mau saya jadi mau deh. OK berangkat! sudah kita rencanakan kita ambil jalur yang aman dan turunnya kita ambil jalan ke daerah cibungbulang dan memutar ke arah bubulak. bismillah, kita bertujuh (kalo ngga salah). Kita mulai jalan lewat ladang2 yang saya ceritakan di awal, dan melihat langit yang cerah hari itu. alhamdulillah kemarennya ngga hujan, jadi jalan setapak yang kami lalui ngga becek dan licin. dua hal yang saya takuti yaitu ular dan monyet. orang-orang sekitar sering mewanti-wanti adanya ular di bukit ini, dan satu lagi adalah monyet gunung. Kata petani setempat, sang monyet suka turun bukit makanin tanaman ladang mereka kalo di bukit lagi ngga ada makanan. tapi saya kan cowok harus berani sama beginian ditambah lagi si babaturan ini udah kebal sama beginian. Mereka sudah menyatu dengan alam sana atau dengan kata lain sudah biasa sama begituan (^_^).
perjalanan baru dimulai, dan saya cukup kaget karena jalan setapaknya tidak seperti ke gunung beneran. jalannya terputus-putus dan banyak celah-celah yang membahayakan kita. ditambah lagi, ada saatnya kita sedikit naik tebing di tengah perjalanan. Maklum bukit ini adalah bukit kapur yang tanahnya keras persis seperti batuan karang. di sekitar kami ada tanaman-tanaman perdu yang berduri. Kalo ngga salah saya pun terkena duri-duri tersebut, jadi kaki n tangan ada beberapa yang lecet. kamipun mulai merasakan ada suara2 yang tidak asing di telinga kami. Persis, ini suara monyet gunung itu. Tapi saya belum lihat sosoknya. Kemudian salah seorang teman menunjukkan saya sang monyet tersebut. "itu nggit, liat di atas pohon!" Waah bener, monyetna gede pisan. Baru saya liat monyet gunung langsung. saya bilang "wah, hati2 ini bisa-bisa mereka nyerang kita, jumlahnya banyak banget soalnya". Teman yang lain menenangkan saya, dia bilang "tenang nggit, monyet itu ngga bakal nyerang kalo kitanya ngga ganggu n berisik". OK, perjalanan pun dilanjutkan, hari sudah mulai terik.
Hampir 1 jam kita jalan dan akhirnya kita sampai di tempat peristirahatan. tempat ini merupakan pos penjagaan sarang walet. seperti yang kita ketahui, hampir di setiap bukit kapur akan ada sarang2 walet. dan ini adalah ladang emas bagi para pengusaha dan orang-orang bermodal. sarang walet dikenal memiliki khasiat bagi kesehatan sehingga banyak diperjualbelikan. harganya pun cukup mahal, jadi pantas jika bisnis ini banyak diminati berbagai kalangan. Sejak saya tinggal di kampung saya ini, saya sudah banyak mengetahui masalah ini termasuk gua-gua walet di bukit kapur ini. Namun, baru saat itulah saya melihat langsung gua-gua walet itu. Ada yang dibiarkan terbuka, tapi kebanyakan di pasang terali besi di pintu gua tersebut. Dan tempat peristirahatan kami ini adalah salah satu pos terbesar gua walet. tanahnya datar dan cukup luas. di tempat ini ada saung yang bisa ditempati sekitar 10 orang dengan beratapkan daun-daun kelapa. di sampingnya ada pohon besar yang tampak hitam. sepertinya halilintar telah menyambarnya dan meninggalkan bekas yang familiar. Beberapa orang sudah pernah tewas karena tersambar petir di tempat seperti ini. Kamipun membuka bekal masing-masing, saya sama kakak bawa air botol saja, uih segar sekali ketika meneguknya. sementara teman2 yang lain ada yang membawa makanan, dan tidak usah dipaksa kami dengan spontan melahapnya. "coba nggit liat ke arah sini" salah seorang teman mengajak saya ke arahnya. "subhanallah, indah pisan..." Pemandangannya mulai terlihat cantik. walaupum ketinggiannya dalam skala kurang lebih 100 meter, namun pemandangannya sangat mengesankan. "mana nih rumah kita?" oh itu tuh...kecil banget ya?", kamipun bercanda tawa sambil mengagungi kekuasaan dan kebesaran Yang Maha menciptakan. Ternyata diri ini kecil sekali. bagaikan setitik debu di padang pasir, kita ini sangat sangat kecil. Pertanyaannya pantaskah saya sombong? Subhanallah, inilah yang saya maksud dengan tafakur alam. Kita dapat mengingat Allah SWT dengan mengamati ciptaan Nya. It's a real activity yang membuat kita kagum kepada Nya dan semakin dekat dengan Nya. Subhanallah..kami tak henti-hentinya berzikir.Perjalanan pun kita teruskan, karena jika terlalu lama di sini kita akan terlambat shalat dzuhur. Akhirnya kami pun meneruskan perjalanan ke puncak bukit. Dengan ditemani teriakan monyet-monyet gunung yang salah satu bagiannya berwarna merah (saya lupa, bagian depan atau belakang) kita pun terus bersemangat mencapai puncak. Alhamdulillah tidak ada diantara kami yang cedera, jadi perjalanan tidak ada hambatan yang berarti. 1 jam kemudian kita pun sampai di puncak. jalan setapak dekat puncak sangat berbahaya. Meleng sedikit, kaki kita akan terperosok celah-celah bukit yang tak tau ujungnya. Hati-hati, kami harus sangat berhati-hati. dan inilah puncaknya, "wow, belum terbayang sebelumnya bisa sampai di puncak". ternyata kami tidak sendirian, ada beberapa pecinta alam yang sudah berkemah sejak kemarin malam, sepertinya mereka mahasiswa. kami menikmati suasana puncak bukit. anginnya yang kencang meniup rambut kami dan menyusup ke dalam kulit-kulit kami yang kepanasan. Sejuk walaupun matahari sangat terik. Tidak banyak pohon-pohon di puncak bukit, hanya ada tanaman perdu yang menghiasi batuan-batuan karang. suasana dan pemandangannya membuat kami betah berlama-lama di sini. makanan dan minuman pun kami habiskan. Subhanallah rasanya kami bisa melihat radius 10 km dari bukit ini. kampus IPB dramaga pun bisa kita terka dari tempat ini.
Pukul 11.00 lebih saatnya kita pulang. Kita mau shalat dzuhur di bawah. Akhirnya kita pun berangkat pulang. harapannya karena jalanannya menurun, waktu tempuhnya akan lebih pendek dibandingkan saat naik. Tapi ternyata di tengah perjalanan kami tidak menemukan jalan setapak yang ideal. Wallahu alam apa jalannya ngga dirawat atau jarang digunakan, membuat jejak-jejak jalannya agak kabur. Kami memang memilih jalan yang tidak biasa semata-mata ingin mencari suasana yang berbeda. tapi ternyata tidak seperti bayangan di awal. Terpaksalah kita menerobos semak belukar dan tanaman perdu. Wuidih..tanamannya berduri dan bikin gatel ternyata. Si kakak yang memang sensitif sama gatel-gatel terlihat merah kulitnya dan bentol-bentol. hehe..tapi ngga papa, tetep asyik dan lebih asyik malah. kami menuruni bukit dengan cepat sambil berteriak menghilangkan ketakutan. "Wooo....awas duri.." saya bahagia bisa mengenang dan mengingatnya. Finally kita jalan terus, dan langsung pulang ke rumah dan pesantren. tadinya sih mau berenang di air terjun, tapi karena ngga nemu dan udah dzuhur akhirnya kita pilih pulang... hmmm..amazing experience




0 komentar:
Post a Comment